Hari Jadi Kuningan Jadi Polemik, Ini Kata Legislator Demokrat

KUNINGAN,- Ramainya pembahasan tentang hari jadi Kabupaten Kuningan beberapa hari yang lalu menuai pro-kontra. Salah satunya diungkapkan oleh Anggota DPRD Fraksi Demokrat Rany Febriani.

Ia menyampaikan bahwa sejarah itu ada periodesasinya.

"Ada prasejarah dan sejarah, fase sejarah juga dibagi-bagi lagi.  Ada sejarah kerajaan, pra islam, kolonial dan lain-lain," ucapnya, Rabu (8/1).

Dijelaskannya, bahwa sifat dari sejarahnya sendiri itu kan kolektif kolegial artinya milik bersama (masyarakat) dan dinamis (berubah-ubah).

"Sangat wajar kalo sejarah kuningan itu banyak versinya. Kita tidak bisa mengklaim 1 versi benar/salah karena dikembalikan lagi kepada masyarakatnya. Toh sampai saat ini sejarah kabupaten Kuningan masih berubah-ubah kok yang dibacakan setiap harjad," jelasnya.

Itu artinya, kata Rany, sejarawan, budayawan dan pihak-pihak yang menangani sejarah kuningan itu masih terus menggali sejarah kuningan dari berbagai sudut pandang dan berbagai sumber.

"Kalau dari sisi filologis, kan banyak juga naskah yang menyebut-nyebut Kuningan, tidak cuma 1 naskah. Belum lagi dokumen-dokumen tulisan lain yang masih menunggu untuk dikaji," tuturnya.

Ia menambahkan, bila ditinjau dari sisi keilmuan tidak bisa menyalahkan salah satu versi saja. Semuanya, kata dia, sah dan dapat  dijadikan sebagai penambah wawasan khasanah kesusastraan bahkan sejarah khususnya sejarah kabupaten kuningan.

"Kita tidak bisa mengklaim versi mana yang paling benar/salah. Justru tugasnya sejarawan, budayawan yang berkecimpung di bidang sejarah, mendalami ilmu sejarah memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana cara kerja sejarah, bagaimana khasanah sastra, sejarah, budaya Kuningan. Jangan malah justru menjadi bahan perdebatan di masyarakat awam," ujarnya.

Salah satunya, sebut dia,  dari sisi filologi, ketika berbicara naskah yang menceritakan sejarah kuningan sudah ada puluhan mungkin ratusan dan belum semuanya dikaji secara khusus.

"Dari 1 bidang saja kan kita harus lihat material naskahnya, bahasa yang digunakan, aksaranya, tinta nya, isi teks nya dan sebagainya. Belum lagi ketika menemukan versi cerita yang beragam," paparnya.

Jadi, kata Rany, tugas filolognya harus sampai menyimpulkan mana teks utama, mana salinan.

Belum lagi dari sisi arkeologi yang mungkin saja banyak bukti-bukti peninggalan masa lalu di Kuningan, seperti patilasan-patilasan,  makam-makam dan sebagainya, banyak disiplin ilmu yang harus dilibatkan.

Dan penentuan Hari Jadi Kuningan itu. tegasnya, tidak terpatok pada hasil kajian saja tetapi juga merujuk pada "kesepakatan" orang-orang terdahulu.

"Ditentukan tanggal 1 September dengan rangkaian ceremonial yang biasa kita lakukan itu kan bukan sesuatu yang begitu saja, itu juga hasil dari kajian pemikiran dan kesepakatan para pendahulu," tandasnya. (om)

Tags:

Berita Terkait

Related News