KPA: GengRAPE Terhadap Anak Terulang Lagi Di Garut

JAKARTA,- Tindak pidana kekerasan seksual yang dilakukan 4 pemuda dan 2 orang anak belum cukup umur terhadap seorang anak di Garut hingga korban hamil 2,5 bulan mendapat perhatian serius dari Komnas Perlindungan Anak (KPA).

Kejahatan seksual denga cara bergerombol (gengRAPE) ini tidak bisa dibiarkan. Sebab kekerasan seksual yang dilakukan secara bersama merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan juga tindak pidana luar biasa (extraordinary crime), maka harus ditangani secara serius, cepat dan luar biasa.

Untuk kepentingan penegakan hukum yang berkeadilan Komnas Perlindungan Anak bersama Lembaga Perlindungan Abak (LPA) Garut akan segera bertemu dan berkoordinasi dengan Polres Garut.

Sedangkan untuk memberikan rasa nyaman dan memulihkan traumatis korban, KPAI sebagai lembaga independen yang bertugas memberikan pendampingan dan pembelaan serta perlindungan anak di Indonesia  segera  menurunkan Tim Advokasi dan Rehabilitasi Sosial ke Garut.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menegaskan Garut harus segera bebas dari kekerasan seksual. Seluruh elemen harus bahu membahu untuk menghentikan dan memutus mata rantai kejahatan kemanusiaan ini.

Sementara itu Kapolsek Malangbong AKP Abusono membenarkan bahwa telah terjadi sekitar bulan September dan November 2019  tindak pidana kekerasan seksual bergerombol (gengRAPE) yang dilakukan oleh 6 orang tersangka warga Melangbong, Garut terhadap seorang gadis di bawah umur.

Abu mengatakan saat itu salah seorang pelaku mengajak korban untuk pergi bersamanya kemudian korban diajak ke salah satu rumah di wilayah Malangbong. Di tempat tersebut korban bertemu dengan para pelaku lain dan dicekoki dengan minuman keras hingga tak sadarkan diri.

"Dalam kondisi tak sadarkan diri kemudian para pelaku  mencabuli korban sebanyak 2 kali," kata Abu.

Menurut Abu, terungkapnya gengRAPE ini saat orangtua korban curiga lantaran perut korban membesar. Dan saat ditanya oleh orang tuanya akhirnya korban mengaku telah dicabuli oleh 6 orang secara bergilir.

Mendapat laporan itu  kemudian orangtua bergegas melaporkan kejadian itu kepada  Polsek Malangbong. Polisi kemudian langsung bergerak cepat mengamankan 6 orang tersangka masing-masing adalah SM (22), MR (20), DD (21) dan DT (19) serta dua bocah di bawah umur yakni  H dan R.

Keenam tersangka kini telah ditahan di Polsek Malangbong untuk diperiksa secara intensif. Polisi akan menerapkan pasal berbeda terhadap tersangka karena beberapa diantaranya tersangkanya merupakan anak dibawah umur.

Pelaku akan  kami jerat dengan Undang-undang RI Nomor : 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun. Bagi pelaku usia anak akan dikenakan pasal yang berbeda.

Namun bagi pelaku dewasa bisa juga dijerat dengan ketentuan UU RI Nomor : 17 Tahun 2016 dengan ancaman maksimal 20 tahun bahkan hukuman seumur hidup jika terbukti dilakukan berulang'-ulang.

Untuk kepentingan membangun gerakan memutus mata rantai kekerasan seksual di Garut, KPA akan bertemu Bupati dan para pejabat pemerintah di lingkungan pemerintahan Kabupaten Garut, masyarakat, alim ulama untuk bersepakat bersama-sama melakukan pertemuan guna mendeklarasikan Gerakan Memutus Mata Rantai Kekerasan Terhadap  anak berbasis keluarga Kampung dan desa.

Gerakan ini merupakan strategi untuk memberikan akses bagi masyarakat, lintas profesi termasuk anak, guru dan media untuk berpartisipasi  menghentikan segala bentuk praktek-praktek tindak kekerasan yang sudah cukup memprihatinkan di Garut," jelas Arist. (wins)

 

 

Tags:

Berita Terkait

Related News