Cegah Peredaran Obat, Apoteker Harus Berperan Aktif

BANDUNG,- Peredaran obat ilegal di Indonesia khususnya di Jawa Barat membuat sejumlah kalangan merasa miris. Pasalnya, obat-obat yang beredar tanpa izin rentan disalahgunakan oleh beberapa kalangan, bahkan oleh remaja.

"Nah ini sebenarnya masih simpang siur. Apakah obat-obat yang beredar ilegal ini memang membahayakan atau obat biasa yang bila digunakan ditambahkan zat lain sehingga berbahaya. Tentunya harus ada pengawasan," kata Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kota Bandung, Yena Iskandar Ma'soem, kepada PortalJabar.net, Sabtu (18/1).

Menurut Yena, pemerintah melalui Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sudah melakukan pengawasan terhadap peredaran obat. Namun, obat biasa yang memang bebas dijual di apotik atau warung pun masih bisa disalahgunakan.

"Misalnya, ada obat yang mestinya digunakan untuk meredakan batuk tetapi bila dicampur dengan minuman bersoda maka akan menimbulkan efek yang berbeda. Itu sangat berbahaya apalagi bila disalahgunakan oleh generasi muda," ujarnya.

Ia menambahkan, obat akan memiliki khasiat atau efektif bila digunakan sesuai aturan. Tetapi, obat apapun yang bila dikonsumsi tak sesuai aturan atau berlebih bahkan dicampur dengan zat lain berdampak merugikan.

"Obat yang seharusnya menyembuhkan bisa menjadi racun," ungkapnya.

Saat ini, kata Yena, yang menjadi dilema adalah sudah diawasi, kemudian ada pengelompokan obat yang dilarang dijual, masyarakat malahan mencari obat lain yang digunakan tak sesuai aturan.

"Tentu sangat penting untuk memberikan edukasi pada masyarakat, dan gerbangnya itu ada di apoteker. Apoteker dituntut untuk berperan aktif dalam pelayanan di apotik," cetusnya.

Di sisi lain, Yena yang mendaftarkan diri maju menjadi calon bupati Kabupaten Bandung ini juga merasa terpanggil karena minimnya edukasi masyarakat khususnya tentang pemahaman obat-obatan.

Yena juga menyoroti fasilitas kesehatan yang belum dimiliki oleh beberapa wilayah di Kabupaten Bandung

"Ada wilayah yang belum memiliki sarana pelayanan publik, jauh dari fasilitas kesehatan tentunya ini menjadi pekerjaan rumah bagi bupati bandung selanjutnya," tuturnya.

Lulusan farmasi Universitas Padjadjaran ini juga mengatakan, lebih dari separuh desa di Kabupaten Bandung yang jumlahnya mencapai 270 serta 10 kelurahan  telah ia sambangi.

Dari hasil turun ke lapangan inilah, Yena melihat langsung permasalahan yang ada di bawah.

"Akar permasalahannya harus kita pahami, setelah itu baru kita benahi tentunya untuk kemajuan Kabupaten Bandung," tandasnya. (nie/)

 

 

 

Tags:

Berita Terkait

Related News