Tingkatkan Kesejahteraan Petani, Pemprov Jabar Gelar Lelang Kopi Online

BANDUNG,- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat bertekad meningkatkan potensi kopi agar lebih berdampak positif terutama bagi kesejahteraan petani. Peningkatan kualitas dan kuantitas menjadi hal utama yang harus segera dilakukan.

Ketua Kadin Jawa Barat Tatan Pria Sudjana mengatakan, untuk menuju ke arah sana perlu adanya perbaikan tata niaga kopi. Selama ini, menurutnya terdapat perbedaan antara pola tanam petani dengan keinginan pasar.

Petani memiliki pola sendiri dalam bertanam, sementara pasar pun memiliki keinginan masing-masing. Dari sisi kualitas, menurutnya selama ini banyak petani yang tidak meningkatkan kualitas kopi saat dijual ke pasaran.

"Petani menjual masih chery,  harusnya ketika sudah menjadi green been," katanya saat sosialisasi Peraturan Gubernur Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Rencana Aksi Multipihak Pekerjaan Pengembangan Usaha Kopi, di Bandung, Rabu (11/3).

Tak hanya itu, menurutnya dari sisi kuantitas pun harus lebih dipastikan lagi agar mampu memenuhi permintaan pasar setiap saat. Dia khawatir petani tidak mampu memasok kopi secara berkelanjutan.

Terlebih, dengan adanya target untuk mengekspor ke berbagai negara agar mampu meningkatkan nilai ekonomi dari komoditas tersebut.

"Australia, Uni Emirat Arab, Jepang, permintaannya tinggi.  Kita belum mampu menyuplai karena kualitas, kuantitas, dan kontinuitas belum nyambung," katanya.

Oleh karena itu, dalam tahap awal pihaknya berharap kopi Jawa Barat mampu menguasai pasar nasional terlebih dahulu.

"Karena untuk masuk pasar global, harus punya standard kualitas, kuantiti, dan keberlanjutan," katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Biro Perekonomian Provinsi Jawa Barat Rachmat Taufik G mengatakan, pergub ini untuk mendukung perbaikan tata niaga kopi.

"Diikuti dengan launching lelang online, supaya tata niaga kopi Jabar ke depan akan lebih baik," katanya.

Melalui lelang online ini, jarak antara petani dengan konsumen menjadi lebih dekat sehingga berdampak terhadap peningkatkan harga jual dan mempercepat alur distribusi.

Dia menilai, selama ini petani menjual masih dalam bentuk chery sehingga harganya murah.

"Kalau sudah menjadi green been, (harga jual dari petani) dari semula Rp10 ribu, bisa menjadi ratusan ribu," katanya.

Dia menjelaskan, lelang kopi online ini memiliki keterkaitan dengan banyak aspek.

"Kenapa harga internasonal di kita tidak konsisten dengan harga petani, karena pasar fisik kita tak nyambung ke pasar virtual," katanya.

Dia menyontohkan, saat harga di pasar bursa naik, namun harga jual kopi dari petani tetap. Dengan adanya lelang online ini, konsumen bisa langsung membeli dari petani melalui sistem yang disiapkan.

"Lelang ini juga didukung lembaga pembiayaan," katanya.

Dia menambahkan, pada sentra produksi kopi idealnya dibangun sistem resi gudang yang multiguna. Selain untuk penyimpanan, resi gudang inipun berfungsi sebagai kertas berharga yang bisa diagunkan.

"Bisa dijualbelikan.Resi gudang pertanda petani punya kopi dengan standard yang telah tersertifikasi. Sehingga nilainya bisa bertahan dalam waktu lama, sesuai surat berharganya," kata dia.

Menurutnya, langkah ke arah ini harus disegerakan agar komoditas ini memberi nilai ekonomi yang lebih. Terlebih, dalam waktu 5-10 tahun mendatang, dia meyakini produksi kopi Jawa Barat akan meningkat.

"Kalau produksi banyak, harga murah, siapa yang tertekan? Makanya dengan lelang ini, ada jalur tol baru, agar peredaran kopi tak selalu di sini, sehingga petani diuntungkan," tandasnya. (nie/*)

 

 

 

 

 

 

 

Tags:

Berita Terkait

Related News