3 Pemberontakan Besar Kaum Komunis Pada Masanya

BANDUNG - PKI (Partai Komunis Indonesia) suatu parpol beraliran kiri ini merupakan partai bersejarah di Indonesia. Berbagai peristiwa pemberontakan yang PKI hingga kini masih membekas di benak rakyat Indonesia. Berikut 3 pemberontakan besar yang sempat dilakukan PKI namun kesemuanya gagal total;

1. Pemberontakan PKI 1926

Perkembangan komunisme di Indonesia ditandai pembentukan Partai Komunis Indonesia (PKI), di mana para tokoh PKI di antaranya Tan Malaka dan Semaoen pada awalnya merupakan anggota Sarekat Islam (SI).

Provinsi Banten yang terkenal agamis karena terdapat banyak kiai dan santri, tak luput dari pengaruh PKI. Bahkan, ada fakta sejarah yang mencengangkan mengenai kaitan para kiai di Banten dengan PKI.

Para kiai-kiai di Banten menjadi anggota PKI dan melakukan pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintahan Belanda yang berkuasa di Indonesia pada masa 1926.

Demikian diungkapkan sejarawan Hendri Isnaeni dalam ‘Workshop Kepenulisan Sejarah Lokal’ yang digelar atas kerjasama Jurusan Pendidikan Sejarah Untirta, Masyarakat Sejarawan Indonesia, serta Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kemendikbud.

“Mari kita berpikir terbuka terhadap fakta sejarah yang ada, bahwa anggota PKI Banten yang memberontak terhadap pemerintahan Belanda pada tahun 1926 adalah para kiai,” ungkapnya di hadapan puluhan peserta workshop yang didominasi oleh para guru sekolah menengah atas.

Orang yang merekrut para kiai itu, kata Hendri Isnaeni, bernama Tubagus Alipan, seorang propagandis PKI Banten. Menurutnya, Alipan tidak sendirian, ada Tjeq Mamat yang menjabat sebagai ketua Subseksi PKI Anyer. Keduanya sama-sama orang orang Banten yang telah menciptakan sejarah.

“Ketika itu, hanya PKI yang berani memberontak terhadap pemerintah kolonial Belanda yang terjadi pada November 1926,” terangnya.

Pemberontakan PKI Banten tersebut dilakukan di Batavia (Jakarta), yang kemudian diikuti serentetan pemberontakan di beberapa daerah di Jawa Tengah dan yang menggemparkan di Banten, serta di Silungkang Sumatera Barat pada 1927.

Akibat pemberontakan itu, sekira 1.300 orang Banten ditangkap Belanda. Sebagian dari mereka diadili dan dijatuhi hukuman berat, empat orang dihukum mati, 99 orang diasingkan ke Boven Digul.

“Dua di antaranya adalah KH Achmad Chatib dan KH Syam’un yang kembali ke Banten pada 1940,” jelasnya. Yang dimaksud 1940 adalah era penjajahan Jepang, KH Syam’un diangkat menjadi Daidancho, Komandan Batalion pembela tanah air (PETA).

Abah Yadi Achyadi mengatakan, kemungkinan salah satu sebab tertariknya para kiai bergabung dengan PKI yang ditawarkan Tubagus Alipan karena politik Obat Cacing.

Ketika itu ada para kiai yang pro terhadap kebijakan pemerintah Belanda memberikan pil kepada para penderita cacingan. Sementara para kiai yang kontra berpendapat, obat cacing yang diberikan tidak jelas di mata mereka halal haramnya karena tidak mengetahui dari bahan apa, dan bagaimana proses pembuatan obat tersebut.

“PKI dianggap organisasi yang berani melawan kebijakan Belanda dan berpihak kepada rakyat,” ungkapnya.

2. Pemberontakan PKI Musso 1948

Pemberontakan ini adalah yang pertama setelah Indonesia merdeka. Latar belakangnya sendiri karena ketidaksetujuan beberapa pihak akan ideologi Pancasila dan ingin mengubah negara ini menjadi sosialis komunis. Tokoh penting kejadian ini adalah Musso yang setelah belajar dari Soviet kemudian segera membentuk gerakan separatis guna mewujudkan cita-citanya membentuk negara komunis Indonesia.

Gerakan yang dipimpin oleh Musso ini berjalan cukup baik awalnya. Ia bahkan sempat menguasai Madiun dan kemudian mendeklarasikan negara komunis buatannya. TNI sebagai aparat pun tak diam saja dengan gerakan membahayakan ini. Kemudian atas perintah Jenderal Sudirman, tentara berhasil menumpas gerakan ini. Sang tokoh utama itu tewas sedangkan beberapa yang lain seperti DN. Aidit berhasil meloloskan diri. Setidaknya 300 orang berhasil diringkus dalam pemberontakan pertama di NKRI ini.

3. Pemberontakan G30S/PKI

PKI yang sempat ditumpas pada tahun 1948, perlahan kembali tumbuh subur dan makin diterima keberadaannya. Hal ini membuat mereka pun makin jumawa dan akhirnya jadi sebuah organisasi besar. Tujuan mereka pun sama seperti PKI tahun 1948 yakni membangun negara komunis di Indonesia.

Hingga pada puncaknya, PKI melakukan penculikan kepada para perwira tinggi angkatan darat dan kemudian membunuh mereka pada tanggal 30 September 1965. Rencana kudeta ini berhasil pada awalnya, namun pemerintah tak tinggal diam dan akhirnya melakukan serangan balasan. Aksi yang dipimpin Soeharto ini berhasil dan membuat PKI hanya tinggal sejarah saja.

Bersyukur deretan kejadian di atas bisa segera ditumpas pada masanya. Jika tidak, mungkin keadaan negara ini sekarang benar-benar berbeda. Harapannya, jangan sampai ada lagi hal-hal semacam ini di masa depan. Sudah cukup bangsa ini menderita selama ratusan tahun penjajahan serta deretan pemberontakan.

Bagi kita yang hidup di era sekarang, jangan mudah terpecah dan terkena provokasi yang bertujuan untuk menggoyahkan stabilitas negara. Percayalah jika negara sudah melakukan yang terbaik. Alih-alih protes, mari kita bersama-sama membantu pemerintah untuk membuat negeri ini menjadi lebih baik lagi. (Uya/dari berbagai sumber)

Tags:

Berita Terkait

Related News