Komunis Dan Teror Kematian, Dua Kata Saling Berkaitan Erat

BANDUNG - Ditulis oleh Dr Masri Sitanggang dalam essai di media online republika.co.id beberapa waktu lalu.

Dor…, dor…, dor… ! Tubuh Voznesensky terkulai. Dia dieksekusi oleh regu tembak satu jam setelah pengumuman putusan yang  dibacakan di balik pintu tertutup pada dinihari 1 Oktober 1950. Pengadilan Rahasia Rusia menjatuhinya hukuman mati atas tuduhan pengkhianatan. Jasadnya,  dan dua puluhan petinggi Komunis Rusia yang didor pada hari itu, dikubur di gurun Levashovskoy, dekat Leningrad.

Tapi tak ada yang tahu di mana persisnya. Enam orang temannya mati selama proses interogasi dan dua ratus lagi, dari pejabat Leningrad, dijatuhi hukuman penjara 10 hingga 25 tahun. Keluarga mereka tidak memiliki hak untuk tinggal dan bekerja di kota besar mana pun di wilayah Sovyet Rusia, kecuali Siberia.

Voznesensky bukanlah orang sembarang. Anak didik Andrei Zhdanov ini dipandang banyak orang sebagai sosok yang sedang dipersiapkan Joseph Stalin untuk menduduki puncak pemerintahan. Anggota Polit Biro ke18 Partai Komunis Uni Sovyet ini dipercaya menjadi Chairman Komite Perencanaan Negara “Gosplan”, yakni lembaga yang bertanggung jawab untuk perencanaan ekonomi pusat di Uni Soviet hingga dua tahun sebelum didor. Di usia tigapuluh delapan tahun, di 1940, Ia juga menduduki Wakil Perdana Menteri.  

Tetapi begitulah Stalin dan pemerintahan komunis Uni Sovyet. Zbigniew Brzezinski (Kegagalan Besar, 1992) memaparkan, pemerintahan Komunis Stalin membangun satu sistem teror di mana tidak seorang individu pun aman dari padanya, bahkan di antara kamerad-kamerad terdekat Stalin. Anggota Politbiro yang menjadi favorit Stalin sekali pun, pada suatu hari bisa menjadi korban pengadilan dan pada hari lain bisa ditembak mati.

Itulah yang pada akhirnya menjadi nasib Voznesensky. Kesetiaan total kepada Stalin, bahkan keterlibatan secara serius di dalam kejahatan-kejahatannya, tidak banyak memberikan perlindungan dari penganiayaan Stalin. Molotov dan Kalinin, kata Brzezinski, terus-terusan duduk di sekeliling meja Politbiro menyusun daftar kamerad yang akan dieksekusi, meski pun isteri mereka sendiri telah dilarikan ke kamp-kamp kerja paksa atas perintah Stalin.  

Dalam rentang waktu satu tahun saja, 1937-1938, tidak kurang dari 37 ribu Perwira Tinggi Angkatan Darat dan 3 ribu Perwira Angkatan Laut yang ditembak Stalin. Jumlah ini jauh melampaui jumlah yang gugur akibat perang Nazi-Sovyet selama dua tahun pertama. Jangan ditanya soal rakyat biasa yang jadi korban. Puluhan juta mati disiksa, dibunuh, dikerjakan paksa atau dibuat mati pelan-pelan karena menahan lapar. Lebih dari 2 ribu komandan militer di seluruh negeri dipecat dan diturunkan pangkatnya.

Kejahatan semacam itu ternyata bukan monopoli Stalin. Para pemimpin komunis di mana pun melakukannya. Sepanjang sejarah manusia, tragedi kemanusiaan yang paling dahsyat dan tiada bandingannya, adalah yang dilakukan oleh komunis. Taufiq Ismail (Katastrofi Mendunia, 2004) memaparkan angka pembantaian manusia di dunia oleh komunis dalam selang waktu 74 tahun sejak Revolusi Bolshewik (1917)  hingga hancurnya komunis dunia (1991).

Dikatakan, Lenin membantai 500 ribu rakyat Rusia sepanjang 1917-1923. Stalin membantai 46 juta rakyat Rusia, termasuk di dalamnya 6 juta petani “kulak” sepanjang 1925-1953. Mao Tsetung menjagal 50 juta penduduk RRC dalam kurun 1947-1976. Pol Pot membunuh 2,5 juta rakyat Kamboja. Najibullah mencabut nyawa 1,5 juta rakyat Afghanistan sepanjang 1978-1987. Rezim Komunis yang dibantu Rusia Sovyet menjagal 1 juta rakyat di berbagai Negara Eropa Timur, 150 ribu di Amerika Latin dan 1,7 juta rakyat di berbagai Negara Afrika. 

Taufiq Ismail mengambil angka rerata dari tiga orang peneliti, yakni 100 juta jiwa dalam 74 tahun di 76 negara. Entahlah, apakah korban akibat kekejaman PKI di Indonesia sudah dimasukkan ke dalamnya. Yang pasti tidak ada disebut dalam Katastrofi Mendunia. 

Dahsyat. Seratus juta jiwa melayang selama 74 tahun. Itu artinya 1,35 juta jiwa dalam setahun, atau 3.702 jiwa per hari. Berarti, dalam satu jam ada 154 jiwa atau tiap menitnya ada 2,5 orang mati di tangan komunis.

Seratus juta jiwa itu, kata Taqufiq Ismail, sama dengan jumlah gabungan penduduk 14 negara pada tahun 2004 (ketika buku disusun), yakni Australia, Austria, Belanda, Belgia, Brunei Darussalam, Denmark, Israel, Irlandia, Slandia Baru, Norwegia, Portugal, Singapura, Swedia dan Swiss. Bayangkan, bagaimana manusia sebanyak itu dimusnahkan. Berarti 14 negera tersebut habis tak berpenghuni lagi.  

Komunis itu sadis dan kejam. Nafsu berkuasa mereka sangat luar biasa. Mereka menghalalkan segala cara, mengikuti Machiavelli. Sekali berkuasa,   tulis Franz Magnis Suseno dalam bukunya Pemikiran Karl Max (1999), dia tidak akan pernah melepaskannya secara sukarela. Dia akan menyingkirkan kekuatan-kekuatan  politik lain, menghapus pemilihan umum bebas dan memasang aparat kontrol  totaliter terhadap masyarakat yang akan menindas segala perlawanan. 

Apa yang dilakukan oleh Stalin terhadap Voznesensky dkk menjagal 37 ribu Perwira Tinggi Angkatan Darat, 3 ribu Perwira Angkatan Laut dan memecat Lebih 2 ribu komandan militer itu adalah dalam rangka pembersihan lawan politik atau yang berpotensi menjadi lawan. Alasannya sederhana saja, cukup tuduh mereka sebagai “musuh rakyat” atau “penghianat”. Tak perlu membuktikan kebenaran tuduhan itu, karena pengadilan sepenuhnya ada dalam kontrol pemerintah. 

Memutarbalikkan fakta dan melemparkan kesalahan kepada pihak lain serta memanfaatkan situasi apa pun untuk kepentingan kekuasaan, adalah keahlian yang dimiliki orang komunis. Ini contohnya.

Antara tahun 1921-1922 Rusia Soviet dilanda kelaparan berat. Schewarz (1972) bertutur tentang kisah seorang perempuan yang pada masa kelaparan itu masih anak sekolah di Kilev, bahwa permainan mereka ketika berjalan menuju sekolah ialah menghitung mayat yang bergelimpangan di jalan. Mengutip Courtols (2000), Taufiq Ismail menuliskan, penduduk sudah mulai makan mayat manusia. Begitu ngerinya kelaparan itu sehingga Petriach Gereja Orthodox  Rusia, Tikhon, kepada jemaatnya meyerukan,  “Mayat manusia telah menjadi cemilan sehari-hari. Di mana-mana orang bertangisan. Kanibalisme menjadi kebiasaan. Saudara-saudara dan saudari-sudariku, ulurkan tangan kalian, bantulah mereka itu ! Dengan persetujuan Jemaah yang beriman, pakailah kekayaan gereja untuk meringankan derita mereka”. 

Tetapi  bagi Lenin, bencana kelaparan itu justeru dapat dieksploitasi untuk menyudutkan dan menghancurkan nama baik gereja. Nama baik kaum agamawan. Lenin berpendapat, bantuan untuk petani kelaparan itu tidak perlu diberikan karena diperlukan krisis memuncak sehingga terjadi revolusi. Lenin justeru memerintahkan menangkapi para panitia bantuan kelaparan dan para tokoh gereja serta merampas kekayaan gereja. Kebencian orang-orang yang lapar terhadap gereja dibangkitkan dengan menyebar fitnah bahwa gereja adalah “musuh rakyat”, borjuis yang menumpuk kekayaan dan tidak perduli terhadap masalah kelaparan. 

Tidak kurang dari 20 ribu aktivis  gereja di “dor” mati dan ratusan lagi, termasuk Patriach Tikhon, dikurung dalam tahanan. Mayat para pendeta itu dicampakkan begitu saja ke parit atau jurang. Bangunan gereja diubahfungsikan untuk berbagai keperluan, termasuk klub malam. Demikianlah, sehingga dari 80.000 gereja yang ada di tahun 1905, tersisa tinggal 11.525 di tahun 1950, turun 87 porsen.  

Harta rampasan dari gereja itu dijual oleh pemerintah. Lenin dengan partai komunisnya tampil seolah “pahlawan”. Padahal, dari 25 juta jiwa yang kelaparan itu, hanya 2 juta yang mendapat bantuan pemerintah. Hasil penjualan harta rampasan dari gereja, berikut emas dan logam mulia lain, itu justeru sebahagian besar dikirim kepada Partai Palu Arit di berbagai Negara sebagai bantuan untuk menggerakkan revolusi dunia. Entahlah, apakah PKI juga mendapat bagian. Yang pasti, ditahun-tahun itu Semaoen, Ketua PKI pertama, sudah punya hubungan erat dengan Partai Komunis Rusia Sovyet. 

Program “Lompatan Jauh ke Depan” Mao Zedong yang ambisius, 1958-1962, membuat 30-40 juta rakyat RRC mati kelaparan. Bencana kelaparan sekala luar biasa ini bukanlah disebabkan bencana alam, melainkan akibat cara kerja pemerintahan, khususnya diktator Palu Arit alias  proletar Marxis. Seperti juga  Rusia Sovyet, di negara-negara yang dikuasai komunis, kelaparan yang fatal memang sengaja diciptakan.  “Ini cara lain pembantaian tanpa darah gaya komunis, tanpa peluru,”  tulis Steven W Mosher, Direktur Asian Studies di Claremont Institut, California. Dia menyebut contoh selain Cina dan Sovyet, yakni Kamboja (masa Pol Pot) dan Ethopia. 
  
Inilah ideologi yang mengusung sosialisme namun hakekatnya penghancur kehidupan sosial. Komunis memang lihai dalam memainkan peran “maling berteriak maling”. Berteriak sebagai pembela hak azasi manusia, tetapi kenyataannya penjagal manusia tersadis di dunia. Berteriak sebagai tidak anti agama tetapi menistakan nilai-nilai Ilahiah dan memusuhi pemeluknya. Berteriak penegakan demokrasi, tetapi membangun pemusatan kekuasaan hanya di tangan segelintir orang dengan menjagal lawan-lawan politiknya. Ingat, Pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI), misalnya, tahun-tahun  menjelang peristiwa1965 berteriak-teriak tentang penegakan nilai Pancasila; tetapi PKI terbukti adalah penghianat Pancasila.

Mengapa komunis bisa menjadi begitu buas, kejam dan ganas tanpa rasa kemanusiaan ? Ini tak lain karena falsafah yang mendasari ideologi komunis itu sendiri, yang ditanamkan melalui perkaderan kepada semua pengikutnya di seluruh dunia. 

Boleh disebut peletak dasar falsafah komunis itu adalah Karl Marx, Friedrich Engels dan Charles Robert Darwin. Trio ini sama-sama mengingkari keberadaan Yang Maha Kuasa. Marx dan Engels melihat sejarah kehidupan manusia tak lebih dari konflik-pertentangan kelas : kelas buruh dan pemilik modal. Yang kuat dan perkasa akan berkuasa dan yang lemah akan punah. Maka, kaum buruh (proletar) memandang pemilik modal sebagai musuh yang harus dihabisi dengan cara apa saja untuk mewujudkan masyarakat sosialisme. Inilah gerakan dengan konsep “keadilan sosial” yang membungkus kebencian sosial yang tiada tara; dan menghalalkan kekerasan yang terorganisasi sebagai alat “penyelamat” sosial. Filsafat materialisme Marx dan Engels ini mendapatkan landasan “akademisnya”, serta dukungan penerapannya di alam raya, dalam The Origin of Species” yang dikarang oleh Charles Robert Darwin (1859). 

Teori Evolusi Darwin menyebut, kehidupan membentuk dirinya sendiri tanpa sengaja dari bahan-bahan pembentuknya yang telah ada di alam semesta. Tidak ada campur tangan Tuhan  di situ. Lalu makhluk-makhluk hidup itu mengalami seleksi alam : yang kuat akan bertahan hidup dan yang lemah akan punah. Seleksi alam terjadi melalui perubahan alam di habitatnya, juga pertarungan dan konflik tanpa belas kasih sesama makhluk hidup. Inilah yang disebutnya sebagai 'Survival of the Life'.

Pengusung ideologi Sosialis-Komunis menempatkan dirinya sebagai binatang tanpa Tuhan yang sedang menghadapi seleksi alam, yang harus bertarung secara ganas untuk tetap bisa eksis. Oleh karena itu, agama yang mengajarkan pengabdian hanya kepada Allah, menegakkan keadilan, menabur kasih sayang, mengajarkan toleransi dan persaudaraan menjadi musuh utama orang-orang komunis; sebab ajaran ini bisa merusak keganasan komunis untuk bertarung. Karena itu pula agama semacam ini harus  “dinetralisir”  untuk kemudian dihabisi. (uya)

Tags:

Berita Terkait

Related News