Untuk Selamatkan Jiwasraya Butuh Rp 24 T

Holding BUMN Penjaminan dan Perasuransian, PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) atau Bahana (BPUI) mengungkapkan total dana yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan likuiditas PT Asuransi Jiwasraya (Persero) mencapai Rp 24,2 triliun.
Besaran dana itu adalah bagian dari skema yang ditetapkan dalam penyelesaian kondisi keuangan Jiwasraya.

Bahana yang kini memakai brand Indonesia Financial Group (IFG) sudah mengungkapkan bahwa perseroan akan mendirikan anak usaha baru dengan nama IFG Life guna menyelamatkan Jiwasraya. Perusahaan baru ini akan menampung portofolio Jiwasraya yang sudah direstrukturisasi.

Direktur Utama BPUI Robertus Bilitea menjelaskan, IFG Life nantinya akan mendapatkan Penyertaan Modal Negara (PMN) Rp 20 triliun, melalui Bahana.

"Pendirian IFG Life juga didasarkan kebutuhan yang ada saat ini di industri asuransi. IFG Life, Indonesia Finansial Group Life," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada Rabu, di Komisi VI DPR RI, Jakarta, dikutip Kamis (10/9/2020).

Dalam kesempatan yang sama Direktur Bisnis Bahana, Pantro Pander Silitonga, menjelaskan kebutuhan pendanaan bagi IFG Life akan ditopang dari sumber pertama yakni PMN Rp 20 triliun, sementara masih ada equity gap (selisih ekuitas) yang mencapai Rp 24,2 triliun, sehingga perseroan akan melakukan pencarian dana (fund raising).

Kedua, BPUI atau IFG Life juga akan melakukan fund rising menggunakan dividen anak perusahaan lainnya sebagai sumber pembayarannya. Fund rising atau pencarian dana dilakukan sekitar Rp 4,7 triliun.

"Saat ini juga ada rencana divestasi Jiwasraya Putra [anak usaha Jiwasraya] yang estimasinya menghasilkan Rp 2 triliun. Perlu dicatat kalau sampai divestasi tidak terjadi, artinya ada Rp 2 triliun yang kita cari sumber pendanaan lainnya, dengan begitu IFG Life akan menampung portofolio Jiwasraya dan menjadi perusahaan asuransi yang sehat," jelasnya.

Tak hanya itu, dia juga mengatakan, ada tiga skenario yang dibahas Kementerian BUMN dan Kemenkeu.

Dari tiga skenario, skenario yang disetujui ialah restrukturisasi dilakukan 100% dengan pengurangan manfaat (haircut) sampai 40%. Dari situ, ada equity gap (kekurangan ekuitas) portofolio Jiwasraya sebesar Rp 24,2 triliun. Kemudian, dibutuhkan Rp 500 miliar membuat bisnis baru IFG Life.

"Kalau kita lihat dari pendanaan yang dibutuhkan dari Rp 24,7 triliun itu Rp 20 triliun dari PMN, Rp 4,7 triliun akan dari BPUI akan melakukan fund rising, sehingga akan menutup Rp 24,7 triliun," jelas mantan Senior Vice President PT Bank Mandiri (Persero) Tbk ini.

Robertus Bilitea kembali menegaskan bahwa akan melakukan perubahan dengan melakukan restrukturisasi portofolio Jiwasraya, artinya produk-produk yang sebelumnya tidak sehat akan diubah term of condition sehingga menjadi lebih sehat dan dilakukan pemotongan manfaat sehingga liabilities-nya akan berkurang," katanya.

"Sesudah restrukturisasi akan dimigrasikan IFG Life nanti dibutuhkan modal yang berasal beberapa sumber, pertama paling besar kami harapkan ada dukungan dari pemerintah dalam bentuk PMN sebesar Rp 20 triliun.

Selanjutnya, modal IFG Life akan berasal dari sejumlah sumber, salah satunya PMN Rp 20 triliun. Bahana juga akan mendapat dana dari beberapa sumber lain.

"Sesudah restrukturisasi akan dimigrasikan IFG Life nanti dibutuhkan modal yang berasal beberapa sumber, pertama paling besar kami harapkan ada dukungan dari pemerintah dalam bentuk PMN sebesar Rp 20 triliun.

Pihaknya telah melakukan pembahasan dengan Jiwasraya dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Dari pembahasan, ada tiga opsi penyelamatan Jiwasraya yakni pertama bail-out, kedua restrukturisasi, transfer, dan bail-in, dan opsi ketiga ialah likuidasi.

"Dari 3 opsi yang selama ini kami diskusikan dalam tim kami memutuskan opsi untuk menyelamatkan dan memberikan perlindungan para pemegang polis di Jiwasraya lewat restrukturisasi, transfer dan, bail in," katanya.

Dia mengatakan alasan pemilihan opsi bail-in karena jauh lebih bisa memberikan perlindungan kepada pemegang polis.

"Kenapa opsi dipakai? Opsi ini jauh memberikan perlindungan kepada para pemegang polis. Jauh memberikan perlindungan mitigasi gugatan-gugatan hukum yang kemungkinan bisa timbul di kemudian hari," jelas mantan direktur hukum Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) ini.

"Kalau opsi likuidasi akan memberikan dampak risiko hukum reputasi yang sedemikian masif, risiko finansial yang tidak kalah masifnya terutama program-program dana pensiun Jiwasraya. Di sini kami memimpikan skema transfer dapat dilakukan jika semua restrukturisasi pemegang polis sudah dilakukan di Jiwasraya," jelasnya.

Berdasarkan laporan keuangan 2019, pendapatan premi ambles 71% menjadi hanya Rp 3,09 triliun dari tahun sebelumnya mencapai Rp 10,55 triliun. Hasil investasi negatif Rp 869,12 miliar dari negatif Rp 16,52 triliun di Desember 2018.

Sementara liabilitas mencapai Rp 52,72 triliun pada tahun lalu, dari tahun sebelumnya Rp 53,31 triliun, termasuk kewajiban utang klaim Rp 13,08 triliun dari Desember 2018 yakni Rp 4,75 triliun.

Ekuitas Jiwasraya negatif Rp 34,57 triliun dari sebelumnya ekuitas negatif Rp 30,26 triliun di Desember 2018.

Tags:

Berita Terkait

Related News