Virus Corona Potensi Serang Antibodi, Mirip HIV

Ahli menyebut virus corona SARS-CoV-2 berpotensi menyerang antibodi dan membuat penyakit Covid-19 jadi penyakit Berbahaya tanpa gejala layaknya HIV.
Hal ini disebut Guru Besar Ilmu Biologi Molekuler Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Chaerul Anwar Nidom dikarenakan virus corona SARS-CoV-2 memiliki pola genetik tertentu yang berpotensi menimbulkan fenomena ADE (antibody-dependent Enhancement).

"Virus ADE ini bisa melawan antibodi yang ada dalam tubuh," kata Nidom dalam wawancara dengan Media Televisi, Rabu (16/9).

Nidom menyebut perkiraan potensi ini berdasarkan pengamatan susunan asam amino virus SARS-CoV-2 yang ada di Indonesia. Susunan pola ini memiliki efek ADE. 

"(Potensi) itu empiris dari data virus yang memilki ADE, kemudian kita analogikan jika terjadi pada Covid. Karena semua virus di indonesia tidak satu pun yang tidak memiliki struktur ADE," lanjutnya.

"Virus Covid-19 punya susunan ADE di mana ADE ini mempunyai efek seperti yang ada di SARS, MERS, Demam Berdarah, HIV, Ebola, dan Zika," lanjutnya.

Kini, pola ADE ini ditemukan dalam mutasi virus corona D614G yang kini sudah menyebar di Indonesia. Varian ini disebut Nidom bahkan sudah ada di 57,5 persen virus corona SARS-CoV-2 yang menyebar di Indonesia. ADE ini menyebabkan antibodi tidak efektif menetralisir virus yang dituju.

Chaerul juga mengatakan apabila benar Covid-19 bisa masuk ke makrofag, maka penyakit Covid-19 akan menjadi sebuah penyakit kronis yang terjadi dalam jangka waktu lama, seperti HIV. 

"Maka si pasien tak menunjukkan gejala klinis...tapi akan menjadi kronis dalam jangka lama, seperti yang terjadi di HIV karena sistem imun korban terganggu akibat pembelokan titik reseptor" jelasnya.

ADE Membuat Covid-19 jadi kronis tanpa gejala

Gejala klinis yang dimaksud adalah gejala gangguan kesehatan seperti yang belakangan kerap disebut menjadi gejala Covid-19. Beberapa gejala itu mirip dengan gejala influenza seperti demam, batuk, dan pilek. Selain itu, akibat infeksi sel paru-paru, penyakit ini juga menyebabkan gejala pneumonia seperti sesak napas.

Tapi, jika potensi ADE pada virus ini benar terjadi, maka orang yang terinfeksi tidak akan mengalami gejala di atas. Saat ini, fenomena orang yang terinfeksi dan tanpa gejala disebut OTG.

Sehingga, Nidom berpesan agar para pelaku uji klinis vaksin Covid-19 memerhatikan bila terjadi fenomena ADE ini di kalangan para relawan vaksin.

"Ini yang perlu kami sampaikan kepada pihak-pihak yang sedang upayakan vaksin, tolong diamati hal-hal yang terkait perubahan-perubahan virus ini," tuturnya.

Ia mengimbau agar segera dilakukan penelitian preklinis terhadap pola ADE pada virus corona SARS-CoV-2. Ia mewanti-wanti jangan sampai penelitian ini terlambat, untuk mencegah kemungkinan ada reaksi ADE terhadap manusia.

Hingga saat ini, para ahli terus melakukan penelitian terhadap virus corona dan mendapat temuan-temuan baru. Salah satunya terkait dengan potensi virus corona SARS-CoV-2 menimbulkan fenomena ADE seperti diutarakan Nidom.

 

Sumber CnnIndonesia

Tags:

Berita Terkait

Related News