Cegah Stanting, Dinkes Karawang Gelar Sosialisasi Di Telagasari

PORTALJABAR,- Mempersiapkan generasi penerus yang lebih unggul dengan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), Kepala seksi promosi Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang gelar sosialisasi pencegahan stanting di desa Cilewo Kecamatan Telagasari, Selasa (22/9).

Kepala Seksi Promosi Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Dede Ratnaningrum, menyampaikan kegiatan hari ini, rembuk stanting untuk pendampingan pelayanan teoritas penurunan kasus stanting yang ada di Kecamatan Telagasari khususnya Desa Cilewo.

Pihaknya dari satgas Kabupaten bersama-sama memberikan bimbingan bagaimana cara mengatasi kasus stanting yang ada di Desa Cilewo.

"Jadi dari stanting ini ada dua kerangka penanganan kasus stanting. Pertama, untuk intervensi gizi spesifik yang mana adalah sasarannya adalah anak dan dalam-dalam 1000 HPK artinya 1000 HPK itu masa dimana dalam kehamilan dan sampai anak mencapai usia 2 tahun," ucap Dede, pada portaljabar.net, disela kegiatannya, Selasa (22/9).

Lanjutnya, yang harus kita lakukan adalah intervensi terhadap ibu hamil, ibu menyusui dan ibu bersalin. Dimana, apa yang menjadi masalah kita harus cari penyebabnya misalnya ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK).

"KEK adalah masalah gizi pada ibu hamil yang disebabkan karena adanya kekurangan asupan makanan bergizi dalam waktu cukup lama. Umumnya seseorang yang mengalami kondisi KEK ini dapat menjadi tanda bahwa memiliki status gizi kurang," jelasnya.

Menurutnya, ibu hamil KEK yang ada di desa cilewo ini sebayak lima (5) orang. Jadi ibu hamil KEK ini yang harus kita dampingi, mulai dari tablet tambah darah, kemudian ada pemberian makanan tambahan, bagaimana dengan pelayanan kesehatan ibu dan anaknya.

Misalnya, terkait kunjungan ke empatnya ke Puskesmas apakah ada penyakit penyerta atau tidaknya.

"Mudah-mudahan Desa Cilewo Kecamatan Telagasari ini bisa mencapai zero stanting. Dengan upaya-upaya intervensinya, setelah saya dan tim tadi dari kabupaten analisa bahwa di sini masalahnya di intervensi gizi spesifik yaitu adanya cakupan dari ASI eksklusif yang rendah yang masih 23% setelah digali ternyata masalahnya adalah bahwa ibu-ibu di sini tidak memberikan asi nya kenapa, karena faktor ekonomi," tegasnya.

Jadi mereka itu sebagai ibu yang bekerja di pabrik artinya mereka itu mempunyai kesulitan waktu untuk memberikan ASI eksklusif.

Yang kita bahas disini kasus stantingnya, sedangkan usia anak dikelompokkan ada yang dibawah 2 tahun ada yang di atas 2 tahun.

"Jadi yang intervensi kita yang masih bisa diintervensi adalah yang di bawah 2 tahun sedangkan di atas 2 tahun itu nggak bisa diintervensi lagi tapi harus ditangani berarti penanganan sedangkan ibu itu adalah penyumbang dari anak yang nantinya akan menjadi stanting,"pungkasnya. (gilank)

 

 

 

Tags:

Berita Terkait

Related News