Sepekan Mendaki, Rupiah Menguat Lagi


Nilai tukar rupiah melemah tipis melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (12/10/2020) setelah mencatat pekan sempurna alias menguat 5 hari beruntun pada minggu lalu.

Meski melemah tipis, rupiah tetap juara 3 di Asia hari ini, sebab mayoritas mata uang utama lainnya berada di zona merah.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan di level Rp 14.650/US$, tetapi tidak lama langsung balik melemah hingga 0,24% ke Rp 14.710/US$.

Setelahnya rupiah terpaku di level Rp 14.690/US$, sebelum mengakhiri perdagangan di Rp 14.680/US$, melemah 0,03% di pasar spot.

Hingga pukul 15:04 WIB, hanya dolar Taiwan dan yen Jepang yang lebih baik dari rupiah, keduanya menguat 0,9% dan -0,6%. Sehingga rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terbaik ketiga, meski posisi tersebut masih bisa berubah letak itu peringkatnya naik atau turun sebab perdagangan di negara lainnya belum berakhir.

Sepanjang pekan lalu dalam 5 hari perdagangan, rupiah mampu membukukan 1,05%. Penguatan tersebut tentunya memicu aksi profit taking, yang membuat kurs rupiah melemah, apalagi saat ini menanti perundingan pembahasan stimulus fiskal di AS.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah mengajukan proposal paket stimulus baru senilai US$ 1,8 triliun.

Namun Kongres sepertinya akan sulit memberi restu. Di sisi kubu oposisi Partai Demokrat, nilai stimulus tersebut terlalu kecil. Demokrat mengusulkan paket stimulus bernilai US$ 2,2 triliun.

Sedangkan di kubu pendukung pemerintah yaitu Partai Republik, paket stimulus US$ 1,8 triliun malah dianggap terlalu besar.

Beberapa data ekonomi dari dalam negeri pekan lalu dirilis mengecewakan yang memberikan tekanan bagi rupiah.

Bank Indonesia (BI) pada hari Selasa (6/10/2020) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode September 2020 sebesar 83,4. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 86,9.

IKK menggunakan angka 100 sebagai titik mula. Kalau masih di bawah 100, maka artinya konsumen punya persepsi yang pesimistis menghadapi samudera ekonomi saat ini dan beberapa bulan mendatang.

Kali terakhir IKK berada di atas 100 adalah pada Maret 2020 dan pada April 2020 sempat berada di titik terendah sejak 2005. Selepas itu IKK mulai membaik dengan kenaikan selama tiga bulan beruntun. Namun pada September 2020 laju kenaikan itu terhenti, IKK kembali terkoreksi.

Sehari setelahnya, BI melaporkan cadangan devisa per akhir bulan lalu sebesar US$ 135,2 miliar. Anjlok dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat US$ 137 miliar yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa.

Penurunan cadangan devisa pada September 2020, lanjut keterangan BI, antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Terakhir Kamis kemarin BI merilis data penjualan ritel yang dicerminkan dari Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Agustus 2020 tumbuh negatif 9,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY), meski membaik dibandingkan Juli 2020 yang terkontraksi 12,3% YoY. Pada September 2020, BI memperkirakan IPR masih mengalami kontraksi 7,3% YoY.

Meski demikian, rupiah juga memiliki "kuncian" untuk menguat lagi, yakni Undang-undang Cipta Kerja yang disahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Senin sore pekan lalu. Sehari setelahnya rupiah langsung menguat cukup tajam.

Tetapi pengesahan UU Ciptaker memicu demonstrasi selama 3 hari di berbagai wilayah di dalam negeri, bahkan berakhir dengan kerusuhan pada Kamis pekan lalu. Hal tersebut membuat efek UU Ciptaker menjadi tidak terlihat.

Kini dengan situasi dalam negeri yang sudah kondusif, ke depannya rupiah punya modal untuk menguat meski hari ini melemah tipis. UU CIptaker dianggap mampu mengubah iklim investasi di dalam negeri yang dapat menarik aliran modal masuk ke dalam negeri. Capital inflow tersebut tentunya akan menjadi tenaga bagi rupiah untuk menguat.

 

 

Sumber CnbcIndinesia

Tags:

Berita Terkait

Related News