IMPORT ANJLOK SAMPAI TITIK TERENDAH

Surplus transaksi berjalan bagai holy grail bagi Indonesia. Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga kini Presiden Joko Widodo (Jokowi) begitu mendambakannya.

Jokowi tidak jarang menyebut bahwa transaksi berjalan adalah kunci bagi Indonesia untuk lebih kompetitif. Sebab jika transaksi berjalan masih terus defisit, maka Indonesia belum benar-benar mandiri.

"Kalau neraca transaksi berjalan kita sudah positif, sudah baik, saat itulah kita betul-betul merdeka. Dengan siapa pun kita berani. (Saat transaksi berjalan surplus) kita berani, karena tidak ada ketergantungan apa pun mengenai sisi keuangan, sisi ekonomi," tegas Jokowi, awal tahun ini

Kepala negara betul. Ketika transaksi berjalan minus, maka pasokan valas di dalam negeri akan bergantung kepada investasi portofolio di sektor keuangan alias hot money. Uang panas yang bisa datang dan pergi sesuka hati, sehingga ekonomi menjadi tidak stabil, mudah 'digoyang'.

Selama masih mengandalkan hot money sebagai pemasok devisa utama, maka Indonesia harus memberi pelayanan maksimal kepada investor asing agar mau membeli aset-aset keuangan. Entah itu dengan imbalan yang tinggi, insentif pajak, dan sebagainya. Indonesia belum 'merdeka' karena masih harus menuruti kemauan investor asing.

Sekarang holy grail itu sudah direngkuh. Butuh sembilan tahun, bukan waktu yang sebentar.

Meski sebuah pencapaian besar sudah terpenuhi, tetapi rasanya kok ada yang janggal. Seperti yang disinggung oleh Gubernur Perry, surplus transaksi berjalan disebabkan oleh penyesuaian impor.

Penyesuaian impor is an understatement, terlalu sopan. Kejadian yang sebenarnya, impor anjlok seanjlok-anjloknya.

Pada kuartal III-2020, lanjut Perry, surplus neraca perdagangan lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya. Dalam dua bulan awal kuartal III saja, surplus neraca perdagangan mencapai US$ 5,57 miliar.

Ini terjadi karena impor yang mengalami kontraksi sangat dalam. Pada Juli 2020, impor turun 32,55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY) dan sebulan kemudian negatif 24,19% YoY.

 

Sumber CnbcIndonesia

 

Tags:

Berita Terkait

Related News