China Dikabarkan Boikot Batu Bara Asal Australia

Harga batu bara termal Newcastle untuk kontrak berjangkanya masih melanjutkan tren koreksinya meski harga batu bara domestik China terus bersaing. Selain aksi ambil untung, kabar China yang memboikot batu bara Australia juga jadi pemicu anjloknya harga sumber energi primer ini.

Pada awal pekan ini harga batu bara berjangka acuan (ICE Newcastle) anjlok 6,51% dalam sehari. Kemarin, Selasa (13/10/2020), harga batu bara kembali ambles dengan koreksi 1,74% ke US$ 53,65/ton.

Padahal di saat yang sama harga batu bara termal berkalori 5.500 Kcal/Kg Qinhuangdao masih terus menguat. Pekan lalu harga batu bara domestik China berada di US$ 91,67/ton. Pada pekan sebelumnya harga batu bara ini masih berada di US$ 90,78/ton.

China dilaporkan telah memberi tahu pedagang dan pengguna batu bara untuk menghentikan impor dari Australia yang mencerminkan bahwa ketegangan politik antara kedua negara tersebut belum berakhir.

S&P Global Platts dan Argus Media, melaporkan dalam beberapa hari terakhir mendengar dari sumber yang tidak disebutkan namanya bahwa Beijing telah memberikan instruksi "lisan" kepada beberapa pabrik baja, perusahaan listrik dan pedagang batubara untuk menghentikan impor dari Australia.

Apabila laporan tersebut akurat, hal ini akan menyebabkan kemerosotan serius dalam hubungan antara Australia dan mitra dagang terbesarnya. Batu bara adalah salah satu dari tiga komoditas ekspor terbesar Australia ke China, setelah bijih besi dan gas alam cair (LNG).

Ketegangan antara keduanya terjadi setelah Australia menyerukan untuk melakukan penyelidikan internasional terhadap pandemi Covid-19 yang berasal dari China sebelum menyebar secara global.

Sejauh ini Beijing telah secara efektif melarang impor jelai Australia, membatasi anggur dan daging, serta mencegah siswa dan orang lain untuk bepergian ke Australia.

Reuters melaporkan impor China periode September untuk semua jenis batu bara dari Australia mencapai 5,48 juta ton, turun dari 6,04 juta pada Agustus dan 8,17 juta pada Juli. Secara year-to-date, China mengimpor 67,68 juta ton dari Australia atau turun 7,3% dari periode yang sama pada 2019.

China diyakini telah membatasi impor batu bara, terutama kualitas termal, untuk mendukung harga penambang dalam negeri. Namun di sisi lain ketatnya pasokan batu bara domestik telah membuat harga batu bara China menguat signifikan dan berada di atas rentang level informal yang dipatok pemerintah.

Hal ini sempat membuat harga batu bara menguat signifikan karena kabar yang beredar menyebutkan bahwa China akan melonggarkan impor batu baranya serta jelang penetapan kuota impor batu bara yang baru.

Meskipun impor batu bara dari Australia drop tetapi sampai sejauh ini Indonesia lebih terpukul daripada Australia.

 

Sumber CNBCIndonesia

Tags:

Berita Terkait

Related News