Ketua Dewan Pembina YBPP : Kesadaran Bela Negara Dan Kehidupan Berbangsa Bernegara

PORTALJABAR - Serangkaian acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Gelombang 2 tahun akademik 2020/2021 yang dilaksanakan oleh Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang pada tanggal 09 – 11 Oktober 2020 secara daring diikuti 2107 mahasiswa.
 
Pemberian materi mengenai kesadaran berbangsa dan bernegara serta bela negara yang disampaikan oleh Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri yang juga merupakan ketua Pembina Yayasan Buana Pangkal Perjuangan.
 
Pada saat penyampaian materi tentang wawasan kebangsaan Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri menyampaikan Indonesia merdeka merupakan negara bangsa bukan negara agama ataupun negara etnik, untuk itu kesadaran berbangsa, rasa cinta tanah air atau nasionalisme dan kerelaaan berkorban untuk membela bangsa dan negara atau patriotisme menjadi keharusan dan kewajiban bagi setiap warga negara Indonesia, gradasi nasionalisme, patriotisme mengindikasikan maju atau tidaknya suatu bangsa, Jepang sebagai misal dengan nasionalisme dan patriotisme rakyatnya yang tinggi mampu menjadi negara maju dan terpandang di dunia. 
 
 
"Kebangsaan Indonesia terbentuk melalui proses sejarah panjang berawal dari berbagai perlawanan atau perang melawan penjajah Belanda, seperti misalnya perang Padri, Diponogoro, Bali, Aceh, Batak, Banten dan sebagainya, serta berbagai perlawanan sporadis yang terjadi sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram, Sultan Hasanudin dari Makasar serta perlawanan-perlawanan lainnya," ujar Ketua Dewan Pembina YBPP.
 
Menurutnya, semangat perlawanan dan berbagai perang yang dilatarbelakangi dan didorong oleh ketidakadilan akibat penjajahan tersebut, kemudian mengkristal membuahkan kesadaran bersama ditandai dengan berdirinya Budi Utomo pertanda lahirnya kebangkitan Nasional Tahun 1908. 
 
Sepirit kebangkitan yang terus bergejolak itu seperti menemukan titik apinya ketika tanggal 28 Oktober 1928 Sumpah Pemuda di kumandangkan, hasrat atau sifat keakuan dan kekamian berhasil dilebur menjadi semangat jiwa kekitaan yang dicetuskan oleh para pemuda dari berbagai belahan nusantara ketika itu, yong Ambon, yong selebes, yong java, yong kalimantan, yong sumatra dan lain-lain (yong adalah bahasa belanda yang berarti pemuda) itulah momentum lahirnya kebangsan Indonesia. 
 
Semangat untuk mengusir penjajah serta merebut kemerdekaanpun terus bergelora dan berproses kendati para perintis kemerdekaan dan para pejuang harus berhadapan dengan pengadilan kolonial Belanda bertahun-tahun menjadi penghuni penjara, berpindah dari satu tempat pengasingan ketempat pengasingan lainnya, bahkan ada yang harus menghadapi regu tembak menjalani hukuman mati, seperti yang dialami oleh Robert Wolter Mongisidi dari Menado, namun sikap, jiwa dan semangat perjuangan mereka tidak pernah surut hingga proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan kemudian dilanjutkan perang dengan gerilya di pimpin oleh Panglima Besar Jendral Sudirman. 
 
"Menjelang kemerdekan dalam sidang-sidang BPUPK para Founding Father berhasil merumuskan pancasila yang di gali dari akar budaya bangsa sendiri yang sudah lama berkembang bahkan sudah mendarah daging dalam masyarakat Nusantara, seperti kekeluargaan, gotong royong, toleransi, keramahtamahan, budi pekerti, musyawarah dan sebagainya," jelasnya. 
 
Lanjutnya, Nilai luhur budaya bangsa tersebut kemudian dipadukan dengan ideologi dan filosofi  yang telah berkembang secara universal ketika itu, oleh karenanya rumusan pancasila dapat dikatakan sebagai buah perkawinan cantik antara lokalisme dan universalisme juga antara idealisme dan realisme sehingga membumi sangat cocok untuk bangsa Indonesia karena berakar dan bersumber pada ranah ke Indonesian yang ideal sekaligus Realistis dan Visioner, tidak ada ideologi lain yang bisa berfungsi dengan efektif sebagai dasar negara, sebagai pandangan hidup bangsa dan sekaligus sebagai perekat bangsa juga sebagai pedoman dalam upaya mencapai tujuan nasional selain daripada pancasila, dengan mempertimbangkan karakteristik ke Indonesian yang secara Geografis merupakan negara kepulauan memiliki letak yang amat strategis dan kaya akan sumber daya alam serta secara demografis amat majemuk multi dimensional dalam hal ras, etnik, agama, bahasa, adat istiadat, sosial, ekonomi dan sebagainya. 
 
Para Founding Father telah membangun sistem kerakyatan atau demokrasi yang khas Indonesian yaitu sistem demokrasi pancasila sebagai mana jiwa ke 4 dari pancasila yaitu “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan". 
 
Sistem demokrasi ini berjiwa kolektipisme mengusung nilai kebersamaan dan kekeluargaan, prinsip demokrasi pancasila adalah keterwakilan secara egaliter bukan keterpilihan sebagai contoh empiris seharusnya suku-suku di papua, dayak, baduy, anak dalam dan berbagai kelompok etnis minoritas lainnya harus diwakili dengan cara ditunjuk agar kepentingan mereka dapat diperjuangkan diparlemen, keterwakilan juga merupakan perekat bagi bangsa Indonesia yang serba majemuk tadi, sebagai perbandingan suku eskimo dan mohawk di kanada yang sudah sangat minim jumlahnya mendapat wakil diparlemen dengan cara ditunjuk. 
 
Prinsip lainnya adalah mengedepankan musyawarah mufakat suatu cara atau mekanisme pengambilan keputusan yang berpijak pada kualitas ide atau rasionalitas bukan pada kuantitas suara, ide rasional dan cemerlang yang muncul dari kelompok minoritas dapat menjadi keputusan bersama lewat mekeanisme musyawarah mufakat dengan demikian sistem demokrasi pancasila justru memancarkan respek terhadap kaum minoritas sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kemajemukan bangsa Indonesia yang bersifat kodrati.
 
Kiki Syahnakri menuturkan, perjuangan para perintis kemerdekaan, bapak bangsa, pendiri negara dalam membentuk kebangsan dan merebut kemerdekan dengan penuh idealisme, spirit, semangat membara yang tak kunjung padam, kebersamaan, persatuan, sikap tanpa pamrih, rela berkorban jiwa sekalipun dan sikap pantang menyerah adalah teladan serta nilai yang amat berharga bagi kita sekalian, buah karyanya berupa negara bangsa berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, Pembukaan UUD 1945 sebagai koridor perjuangan menuju tujuan kemerdekaan, semangat Bhineka Tunggal Ika serta sistem demokrasi pancasila adalah warisan nilai yang tidak boleh kita nodai melainkan harus tetap kita jaga, kita pelihara, diamalkan dan dilestarikan.
 
"Diharapkan atau sangat diharapkan nilai-nilai tersebut dapat mengisi jiwa para mahasiswa dan mahasiswi baru baik dalam proses belajar maupun dalam menjalani kehidupan ditengah masyarakat serta dalam lingkungan kerja masing-masing kelak," pungkasnya. (win's)

Tags:

Berita Terkait

Related News