Monpera, Potret Perjuangan Rakyat Jabar Merebut Kemerdekaan

PORTALJABAR,- Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat atau lebih dikenal dengan Monpera merupakan salah satu tempat wisata bersejarah yang memang sudah menjadi ikon penting kota Bandung.

Monumen ini terletak di Jalan Dipati Ukur 48 ini menjadi bukti sejarah dan simbol perjuangan dan kemerdekaan Indonesia khususnya di Jawa Barat.

Berdiri di atas tanah seluas ± 72.040 m² dan luas bangunan ± 2.143 m, dengan model bangunannya, berbentuk bambu runcing yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern.

Monpera mulai resmi dibuka dan digunakan pada 23 Agustus 1995, dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, Raden Nana Nuriana.

"Taas monumen berbentuk bambu runcing. Filosofinya dengan bambu runcing rakyat bahkan bisa merebut, mempertahankan, dan melanjutkan perjuangan," kata Pemandu senior Museum Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Jawa Barat, Joni Kalimanjaya, kepada PortalJabar.

Pada bagian dinding monumen, tedapat relief yang menceritakan sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat. Mulai dari masa kerajaan, masa pergerakan, masa kemerdekaan, dan masa mempertahankan kemerdekaan dalam melawan penjajahan baik Belanda, Inggris dan Jepang.

Relief pada dinding Monpera Jabar (foto:nie/*)

Di bawah Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat ini, terletak sebuah museum yang secara detail menceritakan berbagai peristiwa penting perjuangan rakyat Jawa Barat melawan penjajahan dan pemberontakan.

Joni mengisahkan, museum ini merekam beberapa pertempuran penting yang terjadi pada masa itu melalui koleksi 7 diorama.

"Dalam museum ada diorama penting dalam sejarah Jawa Barat. Mulai dari ditemukannya manusia Sunda di gua Pawon, peristiwa Bandung Lautan Api, Bojongkokosan hingga perlawanan Pangeran Kusumadinata XI, bupati Sumedang tahun 1791-1828 atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Kornel, terhadap Herman Willem Daendels, Gubernur Jendral Hindia Belanda," paparnya.

Museum ini juga menyimpan banyak artefak yang mencerminkan perjuangan rakyat Jawa Barat. Ada senjata-senjata keris, golok, kujang dan senjata rampasan dari penjajah.

Begitu masuk ke dalam museum, di selasar setelah menuruni tangga terdapat sederetan foto tokoh maupun pahlawan nasional. Gambar-gambar tentang peristiwa Bandung Lautan Api juga terdapat disini.

Dalam museum juga ditampilkan sejarah berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hal tersebut terlihat dari sederetan manekin (boneka manusia), yang memakai seragam militer tentara Jepang, Belanda hingga tentara Indonesia pada masa perjuangan.

“Ini merupakan seragam tentara pada masa lampau, mulai tentara penjajah hingga sejarah berdirinya TNI,”jelas Joni.

Di ruang selanjutnya berbentuk lingkaran yang memajang sejumlah foto maupun benda-benda peninggalan sejarah. Bahkan berbagai koleksi replika dari sejarah perjuangan ada di museum ini.

Beberapa peninggalan pahlawan wanita asal Jawa Barat, Raden Dewi Sartika juga terdapat disini seperti salah satunya mesin jahit, yang digunakan untuk mengajarkan perempuan menjahit.

“Ibu Dewi Sartika sampai menjual harta bendanya, untuk mendirikan sekolah. Ia terketuk saat diminta membacakan isi surat oleh anak perempuan di tempat tinggalnya,”tambah Joni.

Joni menambahkan dalam ruangan ini juga dipamerkan berbagai senjata peninggalan penjajah dan pejuang Jawa Barat.

“Golok ini yang dipakai oleh pejuang Jawa Barat ketika melawan NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Banyak orang NICA yang terbunuh oleh golok ini," tuturnya.

Dalam museum ini juga tersimpan informasi mengenai beberapa daerah di Jawa Barat, meliputi sejarah, daerah wisata, dan kesenian asli Tanah Pasundan.

Ada juga timeline berbagai peristiwa yang dipasang memanjang di sepanjang dinding. Di museum ini juga, para pengunjung dapat menonton film dokumenter perjuangan dan lainnya di Audiotorium museum.

"Kami mengajak generasi muda untuk mengunjungi Monpera. Selain dapat mengetahui sejarah Bandung dari zaman ke zaman, juga dapat mengambil sisi positif dari kerja keras dan perjuangan para tokoh maupun masyarakat Jawa Barat, dalam memperjuangkan kemerdakaan," kata Joni.

Joni menambahkan, di masa pandemi ini museum Monpera tetap buka, namun tetap menerapkan protokol kesehatan salah satunya 3M, Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak.

"Masuk ke Monpera ini gratis alias tidak dipungut biaya," pungkasnya. (nie/*)

Tags:

Berita Terkait

Related News