Fakta Aksi Mogok Pedagang Daging Sapi

BANDUNG, - Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) melakukan aksi mogok perdagangan daging sapi di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek) selama tiga hari ke depan. Hal itu tertuang dalam SE bernomor 08/A/DPD-APDI/I/2021 yang memuat rencana mogok jualan sejak Selasa (19/1) hingga Kamis (22/1).

Kepala RPH Tunas Karya Pamulang, Suwandi mengaku akan menghentikan sementara usaha pemotongan hewan di RPH-nya. Ini sebagai bentuk aksi solidaritas pengusaha RPH terhadap pedagang daging sapi.

"Tidak ada instruksi demo atau apa. Kita berpartisipasi atas aksi rekan-rekan kita para pedagang, kita ikut support," ungkap Suwandi Kepala RPH Tunas Karya Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Abdullah Mansuri mengungkapkan, aksi mogok protes APDI ini disebabkan oleh lonjakan harga daging sapi yang terlampau tinggi dan dianggap tidak wajar.

Pengurus Pasar Serpong, Malikin Karya menjelaskan, aksi mogok berjualan itu akan terus berlangsung sampai harga daging di tingkat suplier berangsur normal.

Atas aksi mogok pedagang daging sapi ini, berikut merdeka.com akan merangkum sejumlah faktanya. Termasuk kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan.

1. Daging Sapi Berpotensi Langka

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri, meminta bentuk protes lebih baik dilakukan dengan cara mengurangi volume penjualan daging sapi ketimbang melakukan mogok penjualan. Cara ini dimaksudkan agar kebutuhan konsumen akan daging sapi bisa tetap terpenuhi.

"Saya pribadi maupun Ikappi tetap menghargai aksi mogok APDI. Tapi kami juga meminta sebaiknya tidak melakukan aksi mogok. Kalaupun mogok lebih baik mengurangi volume penjualan, kalau biasanya satu sapi di bagi dua pedagang sekarang mungkin bisa untuk lima orang pedagang," tuturnya saat dihubungi Merdeka.com.

Abdullah menjelaskan, usulan tersebut dimaksudkan untuk memastikan kebutuhan konsumen akan daging sapi bisa dipenuhi. Khususnya dari konsumen rumah tangga yang amat memerlukan asupan protein di masa kedaruratan kesehatan akibat Covid-19 ini.

"Karena tak dipungkiri konsumen daging sapi juga ada yang berasal dari kalangan rumah tangga. Sehingga kebutuhan protein bagi mereka tetap harus terpenuhi di tengah pandemi ini," tutupnya.

2. Daging Sapi Mahal, Pedagang Kesulitan Jual

Abdullah Mansuri menegaskan seluruh pedagang di wilayah Jadetabek dibuat merugi setelah kesulitan untuk menjual harga daging sapi yang melambung tinggi mencapai Rp130.000 per kilogram. Alhasil, APDI merasa perlu untuk melakukan aksi mogok penjualan sebagai bentuk protes.

"Di situasi harga daging sapi naik sampai menjadi Rp127 ribu hingga Rp130 ribu tentu membuat penjualan akan sulit yang memicu terjadinya kerugian. Maka, akhirnya terjadilah mogok selama tiga hari," ujar dia.

Pengurus Pasar Serpong, Malikin Karya menjelaskan, sebelum aksi mogok berjualan, harga daging di pasar Serpong berkisar antara Rp110.000 sampai Rp120.000 per kilogram-nya.

"Harga daging Rp120.000 per kilogram. Normalnya Rp100.000-an. Kalau daging beku Bulog itu Rp110.000," jelas Malikin.

3. Belum Diketahui Penyebab Harga Daging Tinggi

Abdullah Mansuri menjelaskan kenaikan harga daging ini tanpa disertai adanya penyebab pasti faktor pemicunya.

"Saya perjelas jadi gini, bermula dari kemarin ada pertemuan APDI yang melihat bahwa pedagang merasa perlu untuk melakukan bentuk protes seperti mogok penjualan. Ini karena mereka merasa harganya terlalu tinggi, dan ternyata harga yang tinggi ini tidak diketahui penyebab pastinya apa," terangnya.

Kendati demikian, pihak APDI masih belum mau memberikan keterangan resmi terkait keputusan mogok penjualan daging sapi di Jadetabek. Beberapa kali dihubungi Merdeka.com baik melalui panggilan telepon maupun chat perwakilan asosiasi masih belum buka suara hingga berita diturunkan.

sumber: merdeka.com

Tags:

Berita Terkait

Related News