Tampung Karyawan Terdampak Covid-19, Yana Beri Apresiasi Pelaku UMKM

PORTALJABAR,- Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana sangat mengapresiasi sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kelurahan Cisaranten Endah, Kecamatan Arcamanik yang menampung pegawai di tengah pandemi Covid-19.

Wakil wali kota mendatangi para pelaku UMKM tersebut. Ia menyempatkan untuk menyusuri permukiman padat di RW 11 Kelurahan Cisaranten Endah dan mendatangi salah satu tempat produksi olahan plastik untuk perlengkapan furniture serta dua lokasi pembuat kain rajut.

"Di tengah satu pemukiman di tengah pandemi mereka tetap berkreasi dan berinovasi. Kami mengapresiasi mereka tetap beraktivitas membuka peluang bagi orang lain untuk tetap bisa menghasilkan,” ucap wakil wali kota di sela-sela kunjungannya, Rabu (20/1).

Ia sangat terkesan dengan para pelaku UMKM di Cisaranten Endah ini, lantaran alih-alih mengurangi karyawan mereka justru bisa menambah pegawai.

Bahkan pekerja yang ditampung juga adalah mereka yang terkena pemutusan hubungan kerja akibat terdampak Covid-19.

“Meski pun terkena dampak tapi rekuitment tenaga kerja bisa tetap dilakukan. Ada yang membuka pasar, jadi ordernya ada terus,” tegasnya.

Di sela-sela kunjungannya, wakil wali kota selalu menyempatkan untuk berdialog dengan para pelaku UMKM.

Untuk memberikan dukungan, ikut mendampingi awakil wali kota adalah, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) Kota Bandung, Atet Dedi Handiman.

“Tadi sudah diskusi soal hambatannya. Sekarang ini ada dinas atau cari dari teman-teman perbankan untuk mencari solusi untuk peningkatan produksi,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang pemilik produksi kain rajut, Sansan mengungkapkan, sejak pandemi Covid-19 mulai menyerang sektor ekonomi, dirinya menampung lima pegawai baru.

"Ada 9 orang. Yang baru di mulai pandemi ada lima orang. Sebelumnya mereka bekerja di pabrik tapi berhenti jadi masuk ke sini,” katanya.

Langkahnya menampung karyawan terdampak pemutusan akibat Covid-19 ini ternyata tak lantas menjadi beban. Pasalnya, penjualan produksinya tetap mendapatkan tempat di pasar domestik.

Kendati dihadapkan pada tantangan naiknya harga bahan baku.

"Produksi sekarang baju rajut 40 lusin per minggu. Pasar masih tetap grosir Tanah Abang, Pasar Baru cuma sekarang jumlahnya agak terbatas. Bahan baku disebut aman, tapi sudah dua kali ada kenaikan sementara. Tapi penjualan tidak bisa (naik)," ungkapnya.

Pelaku UMKM lainnya, Iwan Ganiawan, pengrajin perlengkapan furniture juga turut memberdayakan masyarakat sekitar. Utamanya kaum ibu untuk melakukan pengerjaan akhir atau finishing.

“Yang ngepres delapan orang, sama yang maklun dan dibungkus sekitar 16 orang. Bahkan ibu-ibu di sini juga ikut membungkus," terang Iwan.

Usaha yang ditekuni Iwan dalam 10 tahun terakhir ini tetap bertahan di tengah pandemic Covid-19. Pendapatan kotornya dalam satu pekan bisa mencapai Rp30 juta.

"Sekarang saya kirim masing-masing ada satu toko di Jakarta, Karawang dan Tasikmalaya. Kadang toko lain minta terpaksa tidak dilayani," tandasnya. (nie/*)

 

 

Tags:

Berita Terkait

Related News