Harga Daging Sapi Naik, Jabar Cuma Siap 10 Persen Dari Kebutuhan

BANDUNG, - Harga daging sapi mengalami kenaikan karena pengaruh stok yang berkurang. Sementara kebutuhan daging sapi di Jawa Barat masih bergantung pada importir dan pasokan daerah lain.

Kepala Dinas Ketahan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat Jafar Ismail mengatakan, setiap tahun kebutuhan daging sapi untuk masyarakat di Jabar ialah sekitar 195 ribu ton atau setara sekira satu juta ekor.

Dari jumlah itu, hanya 10 persen yang bisa dipenuhi oleh para peternak lokal di Jawa Barat. Sisanya, daging sapi di Jabar mengandalkan pasokan dari provinsi lain, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Bali.

Selain itu, salah satu importir terbesar berasal dari Australia. Namun, di negara tersebut kenaikan harga sudah terjadi sejak Juli 2020 lalu hingga Januari 2021 harganya sudah di kisaran Rp120 ribu per kilogram di pasar tradisional.

"Jabar kebutuhan daging sapi itu 90 persen dipenuhi dari luar bukan dari sapi lokal. Jadi ada kenaikan sejak Juli hingga Januari itu sudah mencapai Rp13 ribu per kilogram dari harga sebelumnya," ujar Jafar, Jumat (22/1/2020).

Kenaikan harga daging sapi itu dipicu oleh beberapa faktor. Di antaranya, populasi sapi di Australia yang menurun hampir 24 persen, sebagai dampak dari bencana alam, seperti kebakaran pada tahun 2019 dan banjir pada tahun lalu.

Saat ini, terang Jafar, stok daging sapi di Jabar masih stabil. Meskipun demikian, ia tidak menjelaskan lebih detail stok daging sapi di Jabar dengan data.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga ini, pihaknya menggelar pasar murah, salah satunya dilakukan di Toko Tani Indonesia Center (TTIC) Jabar yang berada di Jalan Rancabolang, Sekejati, Rancasari Kota Bandung.

"Kita juga hadirkan daging beku Rp85.000 lebih murah, kemudian cabe rawit, cabe tanjung, cabe keriting karena permintaannya juga banyak sekarang," jelas Jafar.

Tags:

Berita Terkait

Related News