Pengakuan Korban Salah Tangkap, Dipukul Kunci Roda Sampai Dibakar Bulu Kemaluan

KARAWANG- Delapan orang pemuda korban salah tangkap oleh Polres Karawang asal Kampung Gintung Kolot, Desa Gintung Kerta, Kecamatan Klari, terus mencari keadilan. 

Selain telah melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Karawang untuk ganti rugi Rp8 Miliar, mereka juga menuntut agar Polisi dan Kejaksaan mengembalikan nama baik mereka yang sudah terlanjur dicap buruk oleh masyarakat.

Bukan tanpa alasan, sesuai putusan Kasasi di Mahkamah Agung Nomor 1011 K/PID.SUS/2016, yang keluar pada tahun 2016 kemarin, delapan pemuda ini ternyata tidak terbukti melakukan aksi pembunuhan terhadap korban Sahrul Budiman, yang mayatnya ditemukan di sekitar samping Bendungan Walahar Klari tahun 2015 lalu.

Beberapa korban salah tangkap ini bahkan sempat bercerita banyak perihal aksi kekerasan oknum petugas Polisi dari Polsek Klari yang memaksa mereka agar mengakui aksi pembunuhan tersebut. Misalnya Deni Hendarsyah (20), salah satu korban salah tangkap. Dia mengaku mendapatkan penyiksaan kejam dari petugas mulai dari dipukul leher bagian belakang, sampai deretan pukulan di bagian wajah.

"Waktu itu saya dijemput terus dibawa ke Polsek (Klari), dibawa ke ruangan tapi engga tahu ruangan apa lalu lampunya dimatiin. Saya ditanya nama, saya disuruh balik badan kemudian leher bagian belakang saya dipukul," ujar Deni, Selasa (17/10).

Setelah itu, kata Deni, dia dibawa dan dimasukkan ke dalam sel tahanan Polsek Klari. Ternyata di dalam ruangan sel sudah ada enam orang rekannya yang lain dengan kondisi babak belur seperti bekas pukulan.

"Paginya saya di BAP. Saya dipaksa suruh mengakui bahwa saya membunuh korban. Saya sudah bilang tidak tahu apa-apa tapi polisi tidak percaya," kata dia.

Karena terus diancam, Deni akhirnya terpaksa mengakui, sampai akhirnya dia bersama tujuh orang temannya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Karawang.

"Di perjalanan waktu mau dibawa ke kejaksaan saya juga terus diancam agar mengakui perbuatan itu," kata dia.

Korban salah tangkap lainnya, Frizkon Ramadhan (21) juga mengalami nasib yang sama. Bahkan dia mengaku lebih parah mendapatkan siksaan dari oknum petugas Polsek Klari. Selain dipukul menggunakan kunci roda untuk mengaku telah membunuh, bulu kemaluannya sempat dibakar dengan menggunakan korek api.

"Saya juga dipukul oleh teman-teman saya sendiri karena teman saya disuruh polisi," katanya. (Ega)

Tags:

Berita Terkait

Related News