EKSKLUSIF: Kisah Kelam Seorang Mahasiswi Pelaku Seks Bebas Dan Aborsi (Bag 1)

KARAWANG - Menelusuri kasus temuan jasad bayi yang kerap terjadi membuat Portaljabar.net nekat mencari informasi dari sumber yang bersedia membuka kisah pengalaman kelam melakukan aborsi. Aborsi, seks bebas, hamil diluar nikah, dan oknum dukun beranak, serta oknum sopir angkutan umum menjadi lingkaran setan maraknya temuan jasad bayi tak berdosa.

Informasi pertama, didapat dari seorang mahasiswi asal Cirebon, bernama Nona (nama samaran) yang mengaku pernah melakukan aborsi. 

Sebelumnya, Nona, terkejut dengan hasil tes urin, yang menunjukkan dirinya hamil akibat hubungan intim dengan kekasihnya.

"Kejadian beberapa tahun kebelakang, saat itu saya nekat periksa ke bidan karena sakit yang diderita saya aneh mirip orang lagi ngidam," ungkapnya.

Hasil pemeriksaan kata, dia, bidan menyatakan dirinya positif hamil tiga bulan. Terkejut, ia kemudian menceritakan  hal itu kepada pacarnya. 

"Pacar saya banyak kenalan, waktu itu saya diajak ke Bandung belanja obat yang disebut bisa menggugurkan janin di sebuah apotik daerah Kebon Kalapa," ungkapnya.

Dikatakannya, obat yang dibeli tergolong mahal, dan tidak sembarangan orang dilayani petugas apotik, kecuali melalui calo yang biasa mangkal di sekitar terminal Kebon Kalapa. 

"Harganya cukup mahal, 1 tablet mencapai Rp 200 ribu, dan saya diminta beli tiga tablet," katanya.

Namun, berganti minggu obat habis, janin yang dikandungnya tak kunjung gugur. Ia kemudian mendapat kembali saran agar membeli jus nanas muda di daerah Lembang Kabupaten Bandung. 

"Saya dan pacar saya jabanin beli nanas muda tapi ternyata tak ada hasil," ujarnya.

Singkat cerita, pacar Nona kembali mendapat masukan dari temannya, agar mendatangi dukun beranak di daerah Sumedang, Jawa Barat melalui perantara sopir angkutan umum jurusan Sumedang di terminal Cicaheum Bandung. 

"Waktu itu Elf kami booking cuma berdua, ditemani kernet dan sopir elf, dengan biaya Rp 800 ribu," ungkapnya lagi.

Setibanya di lokasi yang dituju, disebuah perkampungan, di Sumedang, Nona diminta masuk ke sebuah rumah yang dihuni seorang pria dan wanita tua berusia sekitar 60 tahun lebih. 

"Daerahnya pegunungan, saya gak hafal persis nama kampungnya karena gak dikasih tau. Dukunnya nenek-nenek, asistennya laki laki katanya sih anaknya," katanya. 

Di dalam bilik gubuk, Nona mengaku diminta minum ramuan khusus, lalu kemudian diminta menunggu reaksi selama  satu jam. 

"Setelah itu perut saya diurut dan tangan nenek itu seperti menusukan sesuatu ke rahim saya," ungkapnya meringis mengulang kisah kelam masa lalu. (Bersambung)
 

Tags:

Berita Terkait

Related News