Kemarau Panjang, Pengusaha Terasi Di Cirebon Menjerit

CIREBON - Musim kemarau berkepanjangan, bukan hanya berdampak pada krisis air bersih, dan tanaman padi. Namun juga terjadi kelangkahan udang rebon sebagai bahan baku terasi.

Kondisi tersebut dialami oleh Ratmi (48), pengusaha terasi Desa Kanci Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon. Ia kini merasakan imbas dari kemarau panjang yang melanda Cirebon sejak beberapa bulan terakhir.

"Musim panas saat ini, membuat kami kesulitan mendapatkan udang rebon, yang dijadikan bahan baku trasi," katanya, Selasa (09/10/2018).

Masih dikatakan Ratmi, dampak dari itu, akhirnya hasil produksi menurun karena kesulitan mendapat bahan baku. Juga permintaan pengepul tidak banyak dipenuhi.

"Kalau kondisinya begini, sangat sulit untuk mendapatkan keuntungan. Maka harga perbakul, terpaksa saya naikan," Katanya.

Disaat bahan baku atau rebon mudah didapat, lanjut Ratmi, para pengusaha terasi menjual perbakulnya 10.000 rupiah. Tapi di saat cuaca seperti ini menjadi 15.000 rupiah.

"Kadang 15 ribu juga para pengepul menawar. Katanya jangan ambil untung besar. Padahal saat ini rebon sangat sulit didapat," paparnya.

Seiring perkembangan zaman, kini usaha terasi di desa tersebut mulai banyak ditinggalkan warga. Selain bersaing dengan usaha terasi dari luar, juga di wilayah ini usaha tersebut jarang diminati.

"Di zaman sekarang usaha terasi sudah tidak banyak diminati warga sekitar, karena saingan dengan pabrik-pabrik besar mulai terasa, sehingga banyak yang beralih keusaha lain, " katanya. (abr
 

Tags:

Berita Terkait

Related News